Sometimes it isn’t so hard to pretend that you’re okay.
Just put your make up, add your best smile – or emote smile in your text, and voila…
“daijobu..”
Sometimes it isn’t so hard to pretend that you’re okay.
Just put your make up, add your best smile – or emote smile in your text, and voila…
“daijobu..”
Kutemukan dalam sebuah CD yang sepaket dengan mawar-mawarmu, malam itu.
Malam ini akhirnya aku berusaha untuk mencoba menulis lagi setelah sekian lama hasrat nulis itu hilang. Ya emang dasarnya niat untuk menulis tu timbul tenggelam sih ya. Tapi demi tanggal berharga ini aku ingin berbagi dan bercerita dengan kamu sayang. Sesosok cewe mungil, yang sampe saat ini masi jadi orang yang ada dihatiku.
Aku mulai saja dengan perkenalan kita. Ion. Nama yang simpel, unik dan mudah buat diingat, dimana yang saat itu kamu menyandang status pacar temanku sendiri. Masih teringat masa conference call tidak jelas itu, membicarakan hal-hal tidak penting, ngobrol ngalor ngidul dari topik a – z sampai subuh. Awalnya kamu yang sering curcol soal pacarmu (saat itu) padaku. Dan waktu itu semua masi biasa saja.
Suatu saat, ceritamu dengan dia berakhir. Interaksi kita makin intens. Dimulai dari chat nggak penting seperti biasa, ngalor ngidul kesana kemari, sampai pada obrolan kita yang suda mulai ‘nakal’ sedikit, mulai saling menggoda. Dan aku tak pernah lupa obrolan via udara kita itu. Aku bilang padamu,
”Aku taw arah pembicaran ini kemana,tapi aku ga maw Ge Er dulu ya, makanya aku maw mastiin dulu”.
“Ntar dulu kak ya,aku maw jedotin kepala ke tembok”
Aku tidak pernah lupa kata-kata lucu darimu itu, karena dari sana semua dimulai, dari sana semua cerita kita dimulai. Disana titik awal dimana aku sangat-sangat memperhatikan kamu, yah diluar kenyataan lain bahwa sebelumnya aku sudah nyaman berbagi cerita denganmu. Aku tau kamu pasti juga tau, saat itu aku sedang dibutakan oleh obsesiku akan cinta sejati. Kamu yang selalu akhirnya jadi tempat aku berkeluh kesah tentang apa yang terjadi padaku. Aku tak akan pernah lupa pesan singkatmu malam itu.
“Kak aku mau istirahat dulu ya, nanti apapun yang terjadi, tetap nanti sms aku, walaupun nanti aku udah ketiduran. Paling ga nanti setelah aku bangun, aku tau apa yang terjadi sama kamu kak”
Aku yang saat itu masih struggle dengan masalah hatiku dengan si ‘cinta sejati’ (baca: obsesiku) dibuat merinding dengan pesanmu itu. Apa yang terjadi padaku, akupun tak bisa menjelaskannya. Dengan rasa yang tak bisa dijabarkan itu, hatiku mulai mencari-cari kamu, di tiap obrolan kita, sms, chat atau apalah. Dan ingatkah kamu pernah suatu saat kamu meninggalkan chat tanpa pamit, dan aku panik sendiri. Merasa khawatir berlebihan. Dan ingat saat kamu muncul kembali berkata bahwa kamu ketiduran karena habis minum obat? Inget bagaimana aku mengomel padamu seakan kamu sudah menjadi bagianku? Hahaa…
Arti hadirmu benar-benar terbukti saat aku terpuruk karena ‘cinta sejatiku’ itu. Kamu ada disana. Tidak berharap apa akan apa yang kamu rasa, hanya mendengar, dan mengungkapkan seperlunya saja.
Dan semua cerita kita dimulai kamu dan aku, tentang kita di tanggal 21012010
Semua berjalan begitu indah dan menyenangkan, awalnya. Banyak api kecil, namun kekecewaanmu terlalu dalam saat kita sudah berbuat terlalu jauh. Kamu berucap putus, namun aku mati-matian mempertahankanmu. Aku tau kepercayaanmu padaku telah meluntur, nyaris hilang. Kamu memberikanku kesempatan namun hatiku sakit saat melihat kamu yang ketakutan melihatku, bagai melihat sosok monster mengerikan pada diriku. Kita bertemu tapi bahkan untuk disentuhpun kamu ketakutan. Aku terjatuh melihat kondisimu yang nyata itu di depanku. Menyesali semua yang akhirnya membuat hubungan kita bagaikan roller coaster. Berat sekali hubungan yang kita jalanin setelah itu. Masalah demi masalah datang menguji kita. Akupun hopeless karena hal terpenting itu, kepercayaanmu, telah hilang dari genggamanku. Kita bertahan sampai saat terburuk itu datang.
Aku yang benar-benar berada dalam titik jenuh. Jenuh dengan kondisi kita. Yang saat itu selalu kita habiskan dengan pertengkaran yang tidak berujung. Selalu melibatkan emosi yang meluap-luap. Aku tidak sanggup membahagiakan orang yang aku sayang, itu yang ada di pikiranku. Aku lelah dengan situasi ini, hanya bisa membuatmu menangis setiap malam karena aku. Aku berfikir apa kamu akan lebi baik tanpa aku? Kesalahan fatalku adalah berlari ke orang lain atas semua masalah ini. Aku menyalahkan keadaan atas tindakanku. Aku melepasmu. Dan inilah kebodohanku. Aku mengakui ini benar-benar kebodohan terbesarku di sepanjang cerita kita.
Ingatkah kamu saat aku berkata padamu yang waktu itu sedang desperate,“Kalo emang ada jalannya, kita bakal kembali lagi” Entah kenapa, saat itu aku percaya. Saat itu aku ingin berlari lepas darimu, namun ada satu tempat di hati kecilku yang berkata lain.
Kamu selalu mengingatkanku tentang karma. Dan (yah, tak usah kuceritakan detailnya kamu pasti tau) karma benar-benar menyapaku. Pelarianku menganggap aku pelariannya. Dan aku jatuh. Pelajaran hidup berharga yang menjatuhkanku karena memenangkan egoku sendiri. Dan saat itu kamu datang. Ingin melihat badanku yang meriangkah? Atau ingin tertawa atas karma yang kudapat? Atau adakah saat itu kamu khawatir? Melihatmu saat itu membuat semua rekaman kejadian kita berputar-putar di otakku, mengapa aku pergi, mengapa aku jenuh, mengapa aku acuh tak acuh dengan semua smsmu, mengapa setelah meninggalkanmu aku takut untuk bertemu denganmu lagi? Semuanya hanya ada satu jawabannya: aku berbohong pada hatiku. Aku membohongi perasaanku sendiri, dan memaksakan diri buat lari ke tempat salah. Itu ternyata sangat menguras emosiku. Jujur kadang aku menunggu smsmu yang cuma sekadar mengingatkan hal-hal kecil itu.
Di titik ini aku benar-benar sudah kehilangan kepercayaanmu. Tapi aku memutuskan untuk tetap kembali dan menerima semua resiko yang ada, walaupun aku tidak akan bisa mendapat kepercaan itu sepenuhnya aku tetap datang untuk memperjuangkanmu. Ya, kamu untukku, bukan sekedar pemuas nafsu, namun sebagai sosok yang aku butuh, hanya dengan modal yakin, dan rasa yang masih aku punya. Bahkan dengan kondisi semua keluargamu membenciku, aku siap dan aku akan berusaha perbaiki itu. Apa lagi yang bisa aku ucapkan sayang, bukankah kamu telah muak dengan kata maaf ku?
Hari ini masih episode kita, dua tahun yang lama. Sakit, senang, susah, sedih, kita lewati. Seberapa waktu itu berharga, segala kenangan itu ada. Dan masih ada nada. Cerita tentang kitakan? Kamu dan aku di dalamnya. Inilah kita. Dengan segala kelebihan kita yang buat kita bisa saling menyayangi dan sangat membutuhkan sampai sekarang. Dengan kekurangan kita yang sangat banyak dan sering jadi perselisihan yang membuat kita seolah tidak pernah bisa menemukan penyelesaiannya. Emosi kita yang saling bertabrakan satu sama lain. Prinsip yang masih belum bisa disatukan. Aku memang tidak sempurna begitu juga kamu. Tapi kita bersama ada untuk saling melengkapi, saling meutupi kekurangan satu sama lain. Aku akan bertahan selama masih melihat tulus itu di matamu.
Buku ini masih belum tertutup. Ini masih tentang cerita kita. Aku dan kamu di dalamnya. Bukan tentang mereka. Tapi tentang kita. Dan ini adalah halaman terakhir. Yang masi panjang buat diceritakan. Sampai nanti saat kita menutup buku ini. Dan hanya Yang Di Atas yang tahu bagaimana akhir ceritanya.
Selamat tanggal 21 sayang
Ps: Aku selesaikan laguku untukmu sebagai bingkisan kecil di tanggal duasatu
Hari ini tepat setahun lalu, sebenarnya aku tau. Dari matamu. Ya, cuma dengan melihat sosok itu. Kamu datang, menjemputku, pergi ke tempat itu, lalu kembali pulang, tanpa emosi. Datar. Seolah hal itu kewajibanmu semata. Seperti manusia yg wajib mandi dua kali sehari, hafal setiap step nya, bisa dilakukan tanpa berfikir. Hap, hap, hap, selesai. Seperti itulah kamu saat itu. Dan aku tersenyum, menertawakan diriku dalam hati. Inikah yg ingin kupertahankan?
Hari ini dua tahun lalu, sebenarnya akupun tau. Kita akan lebih dari sekedar kita yang biasanya. Kita akan berjalan beriringan dengan prinsip kita yang sulit disatukan namun saling berkaitan. Ya, kita serumit itu namun tetap memulai cerita
Hari ini, di tanggal yang sama. Kita duduk berdua di tempat yg dari dulu tak pernah jadi kita kunjungi. Kamu dengan mawar-mawarmu. Kamu dan ceritamu. Aku dan ceritaku. Sedikitpun tak ada membicarakan hal-hal yang telah lalu, pun hal-hal yang akan datang. Tapi kita…
masih saja bersama, ya?
Homed after dinner at Subak with Cung,
xoxo
I never imagine that I would have two shots -rabies vaccine- because of my own dog! Sumpah. Mimpipun saya nggak pernah. Tapi kenyataannya adalah I was bitten by my own dog, Bombom, which is a bomber, few months ago. Dan nggak tanggung-tanggung, saya digigitnya di bagian (maaf) pantat! What a shame…
Sebenarnya kejadiannya sudah berlangsung agak lama. Tapi kenapa baru saya ceritain sekarang? Karena saya baru saja divaksin sekitar seminggu lalu dan pagi tadi saya dapat suntikan kedua (baru tau kalo suntikan rabies itu berkala -_-). Jadi ceritanya, dulu itu habis digigit Bombom, saya nggak langsung pergi ke rumah sakit untuk vaksin. Alasannya karena waktu itu lukanya kecil (tapi dalem), dan gigi + air liur anjing saya nggak kena kulit secara langsung (buktinya celana saya nggak ada robek sedikitpun) dan karena saya takut jarum suntik. Nah seminggu lalu (lebih deh kayaknya), adik Mama saya, Mbak Titin kembali jadi korban kesensitifan Bombom. Ini nih, gara-gara si mbak ini cerita ke Mama & Ajik kalo rabies itu efeknya baru terlihat setelah enam sampai satu tahun ke depan, jadi deh malam itu, malam minggu, saya inget banget abisan waktu itu ada si pacar di rumah, mereka semua berhasil membawa saya ke UGD RSU Tabanan untuk divaksin. Divaksin sodara-sodara!
Entah karena apa bayangan tentang jarum suntik itu selalu berhasil bikin saya mual dan mendadak pusing. Sumpah, takut! Sesampainya di RS, Ajik membantu saya menjelaskan kronologi kejadian beberapa bulan lalu kepada perawat dan dokter jaga. Saya dimintai KTP, menebus vaksin di denpo obat, dan here we go. Saya yakin wa
ktu itu muka saya sudah pucat pasi membayangkan dua suntikan di lengan kanan dan kiri saya. Mereka yang mengantar saya (Ajik, Mama, Mbak Titin dan pacar) cuma ketawa-ketawa nggak jelas. Bete…
Biar dikata nggak sakit atau apa, pokoknya saya nggak mau disuntik lagi. Huuuuft, sambil peluk perut Ajik yang buncit jadi juga malam itu saya disuntik. Tadi pagi juga. Dan kata dokternya, jadwal berikutnya tanggal 28. Boleh kabur nggak, ya?
By the way, saya baru pulang ngedate nih. Barusan si pacar ngajakin nyoba makan di Cebar-Cebur, tempat makan steamboat dan yakiniku punya temennya. Habis itu shopping buku deh. Lumayan, tiga novel baru siap dijamah. Tiba-tiba lupa aja gitu sama lengan kanan yang bengkak habis disuntik
Oke, hari ini saya mau lanjut cerita. Kemarin gara-gara kebanyakan yang mau diceritain, jadi malah nggak jadi cerita. haaaha…
Jadi ceritanya, kemarin itu saya bolos gawe di tempat gawe saya sekarang (tempat kursus matematika kiblat Jepang itu tuh) dengan alasan sakit. Padahal sebenarnya, jam 8 pagi saya udah duduk manis aja gitu di ruang meeting agung nya KCU BCA di jalan Hasanudin. Yak, benar sekali, saya bolos gawe buat interview gawean lainnya
Saya hari itu ikutan psikotes untuk BDP (BCA Development Program) yang lamarannya iseng-iseng saya kirim lewat internet setelah dapat email lowongan dari jobstreet (sumpah, yang ini iseng beneran!). Eh, tak disangka tak dinyana, datanglah sms pemberitahuan buat ngikutin psikotes sekitar tiga hari lalu lah. Awalnya saya kira itu cuma sms tipu-tipu basi doang. Abisan setelah saya tanya temen saya yang baru aja keterima jadi teller di BCA, semua pemberitahuan interview dikasih tahunya minimal lewat telepon. Tapi, keesokkan harinya ternyata mbak-mbak bersuara merdu menelepon saya dan minta konfirmasi apa besok bisa ikutan tes atau enggak. Oh.. ternyata beneran toh… Yaudah deh, hajar aja, sekali-sekali ini bolos ngumon, sekalian refreshing dari rutinitas membosankan, begitu pikir saya waktu itu.
Nah, jadilah saya hari itu pagi-pagi berangkat ditemenin ujan (T.T). Karena rumah saya jauh (sekitar 40 menit dari TKP) otomatis saya harus bangun lebih pagi dari biasanya. Kemarinnya saya udah nyiapin pensil HB sesuai sama yang dikasih tahu sama mbak-mbak bersuara merdu itu di telepon. Sampai di TKP, jreeeeeng kagetlah saya, semuanya pada neciiiis boook. Sekitar 10 lebih cewek-cewek dengan rok-kemeja-blazer-high heels bertebaran di depan saya. Buset dah, saya doang nih yang serampangan, pikir saya waktu itu. Ya jelas lah, diantara semua pegawai-bank-wanna-be itu, cuma saya yang dateng cuek dengan jeans dan kemeja a la anak kuliahan yang slengek’an
) Eh, tapi setelah lirik kiri kanan, akhirnya saya dapet temen senasib juga. Yah meskipun jumlahnya cuma beberapa. Hehee
Setelah menunggu sekitar 10 menit, kami yang jumlahnya sekitar 20-25 orang digiring pak satpam menuju sebuah gedung paling belakang dan langsung masuk ke ruang meeting agung yang ada di lantai 3. Ohya, sebelum masuk, mas-mas cakep yang hari itu jadi mentor kami udah ngasi pengumuman kalo test nya pake sistem gugur (eliminasi), jadi kalo nggak lulus test tahap pertma-kedua (yang digabung) kami harus pulang. Beuh.. kalo yang ini sih saya udah tau. Malem sebelumnya saya udah sempat cari info tentang programnya BCA yang satu ini. Dan dari info yang saya dapet, program ini emang sulit buat ditembus dan proses seleksinya berlapis-lapis (kok kayak wafer yaa?
). Jadi sebenarnya saya udah siap mental aja gitu kalo di gelombang pertama saya udah harus say goodbye sama temen-temen yang lain. Apalagi setelah lihat peserta lain yang kayaknya udah mantep banget gitu.:|
Keyakinan saya bakal tereliminasi di proses awal tambah gede waktu saya nyadar ternyata kotak pensil saya ketinggalan. Yup, saya ternyata nggak bawa alat tulis apapun, wkwkwk. Alhasil lima menit sebelum tesnya dimulai, saya sibuk minjem bolpen sama pensil ke mbak-mbak sekitar saya. Salah seorang teman kenalan saya, Amrita, anak ilmu komputer Udayana angkatan ’06 sampe komentar begini, “Hadeh,, itu sih terlalu santai kamunya..” Santai apaan, belom tau dia semalem saya beli pensil HB hujan-hujanan. Tapi emang dasarnya slebor, mau digimanain dong? *ngeles*
Singkat cerita, akhirnya saya dapet juga bolpen dan pensil dan siap tempur dengan nomor keberuntungan 004. Tes tahap awal ya masih kayak psikotes kebanyakan. Kalimat-kalimat, persamaan dan lawan kata, melanjutkan bilangan, hitungan, mengingat kata, dan logika matematika lainnya. Ini nih, dibagian itung-itungan gini nih, males banget deh.. Lembar jawaban yang keisi kayaknya nggak lebih dari 10 biji
) Trus lanjut gambar-gambar, asik kalo yang ini saya suka
Nah, tahap pertama terlewati dengan santai dan masih dengan pikiran habis ini pulang. Tahap test kedua (disambung dengan yg pertama jadi belom ada eliminasi) adalah si lembar pauli ituuu. Buat kalian yang udah pernah ikutan psikotes pasti tau deh. Jadi kita dikasih selembar kertas ukuran A3 (kayaknya) yang penuh dengan deretan angka dari atas ke bawah. Instruksinya adalah menjumlahkan angka di atas dengan yg dibawahnya begitu seterusnya dan menuliskan hasilnya di antara dua angka tersebut. (kebayang? nggak kebayang? ya pokoknya gitu deh :p) Kayaknya cuma anak-anak psikologi deh yang ngerti caranya menilai tes pauli ini…
Setelah otak lumayan kerja rodi gara-gara si lembar pauli, kami diijinkan untuk istirahat dan menikmati santap siang bersama. Pheeeew, saya sampe sakit leher
Pikiran saya habis makan-pulang aja deh pokoknya. Sementara mbak-mbak dengan rok-kemeja ketat-blazer-high heels itu bolak-balik ke kamar mandi (mungkin touch up bedaknya belepotan gara-gara tes pauli, wkwkwk). 30 menit.. 35 menit.. 40 menit.. 45 menit.. Dan Mas Julius (kalo nggak salah) keluar dari ruang meeting agung sambil bawa kertas HVS yang dia tempelin di pintu ruangannya sambil bilang, “Yang nomornya tidak tercantum disini boleh langsung pulang ya..” Saya mendekat dan.. 001, 004, 013, 019, 021, 022.
Saya kembali masuk ke ruangan sambil kebayang-bayang muka mbak-mbak yang saya pinjemin pensil dan bolpen yang kedua-duanya nggak lolos seleksi tahap pertama *guilty* Sambil kebayang-bayang juga sama mbak-mbak rok-blazer-high heels yang pada pulang semua *berkaca-kaca* Dan tes berlanjut dengan sekitar 500 lebih pertanyaan tentang kepribadian. Hari itu ditutup dengan wawancara singkat perorangan dan sebuah pertanyaan: loloskah saya ke tahap selanjutnya?