kusebut ini ungkapan hati

Katakan apa lagi yang kau mau dariku
Katakan tanpa bumbu pemanis beracun itu
Cukup intinya, tanpa teori-teori yang banyak, yang memusingkan, berbelit-belit
Pun bila nanti akhirnya fakta akan kau balikkan
Katakan saja
Biarkan hati mati ini mencerna
Agar logika tak lagi bertanya-tanya

Adakah yang kau sampaikan itu adalah sebuah pertolongan?
Berusaha menghentikkan monolog-monolog ku dalam malam kaku
Jadi sebenarnya kau tahu salahmu?
Oh, aku tak boleh menyalahkanmu
Karena kamu pasti akan berkata yang ambigu
Yang bisa saja nyata atau palsu

Kesalahanku melupakan prinsipku demi kamu dan keangkuhanmu
Bayarannya aku terombang-ambing
Dalam hidup yang makin keras
Dalam perang dua sisi dalam hati
Terseret dalam hitam yang semakin kelam
Tapi buat mu aku cahaya!

Katakan apa lagi yang kau mau dariku
Agar logika tak lagi betanya-tanya
Agar kau puas memenangkan semua
Tapi tidak dengan kebenaran yang sesungguhnya

 

27juli untuk malam-malam kaku

siapa…

Siapa bisa mengajariku untuk membaca rasa yang tanpa benang-benang kamuflase? Datanglah hari ini, maka akan kuceritakan padamu kebingunganku. Keraguanku. Ketidakpercayaanku. Atau mungkin seperti kata mereka: kebodohanku. Siapa bisa menjelaskan padaku asal perasaan skeptis yang selalu menyerangku? Datanglah ketika senja datang nanti. Beritahu aku yang mana yang nyata yang mana yang pura-pura. Tentang kamu. Tentang hidup. Tentang semuanya. Dari mana datangnya semua ini? Dari semua kata-kata yang klise kah? Siapa? Siapa yang bisa bercerita kepadaku? Ceritakan padaku realita! Jangan cemaskan akan lahirnya sebuah luka… Bukankah aku telah bersahabat baik denganmu, luka?

Yesterday Was a Nightmare

Merinding. Semua rambut di tubuhku berdiri ketika melihat sosok diriku sendiri. I’m standing in front of the mirror in my room and wondering somebody tells me that yesterday was a nightmare… Tapi tak ada yang datang. Dan kemarin bukan sekedar mimpi buruk. Kemarin adalah nyata, pahitnya, perihnya, dan mengerikannya.

“Aku ga akan ganggu kamu lagi, aku tahu semua salahku…”

Adakah terbersit di otakmu untuk menenangkanku yang malam itu meringkuk ketakutan sendiri, meraba dadaku yang memar membiru, berusaha meredam nyeri di pinggul kiriku sambil menenangkan hatiku yang menciut takut? Wajarkah sebuah pesan itu (ya hanya itu saja) dilontarkan oleh seorang kamu, yang katanya peduli, dan begitu menyayangiku?

“Cowok yang udah membentak kamu bisa ninggalin tekanan psikis, meskipun kamu gak menyadari itu”

Di depan alfamart melihat kamu berbicara dengan nada keras tiba-tiba dadaku berdegup sekian kali lebih kencang.

“Cowok yang bertindak ugal-ugalan juga memberikan tekanan psikis tanpa disadari.”

Di depan gerbang rumahmu kamu membanting pintu mobil sekeras-kerasnya dan aku berusaha menahan air mataku yang hampir jatuh, menarik nafas, memegang lenganku sendiri erat-erat agar tak kentara olehmu getarannya.

“Yon, kalo kamu balik sama dia, aku gak masalah, tapi aku gak mau tahu kalo nanti akhirnya dia main tangan ke kamu dan jadi lebih parah di belakangmu. Semua keputusan balik lagi ke kamu.”

Kamu mengamuk. Melempar bungkusan gak bersalah ke langit-langit ruang itu. Kamu membanting jaket ku hingga resletingnya menimpa dadaku dengan keras, nafasku sesak, kakiku melemas, tapi seolah tak peduli kamu membanting tubuhku dengan emosi ke kasur hingga pinggulku terhantam keras. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Takut, marah, tak terima karena bahkan orang tuaku tak pernah memperlakukanku seperti ini. Aku berteriak padamu agar tidak menyentuhku dengan ketakutan maksimal. Kamu terus berusaha meraih tanganku dengan kasar.

Inikah yang harus kuterima karena tidak menampakkan senyumku padamu?

Inikah yang kamu maksud dengan “Nggak bisa liat kamu cemberut?”

Inikah yang kamu maksud dengan dewasa?

 

Aku tak akan menoleh lagi ke belakang, karena aku tahu semua omongan mereka benar: sesal.

I wish yesterday was a nightmare, menjelang pagi, 23juli2011

***

Mau tak mau, semuanya harus kututup lagi hari ini. Semua aksesku padamu, termasuk mata, telinga, dan hatiku. Beberapa hari terakhir aku sudah cukup dimanja oleh luka. Menganggap diriku masih bisa kau lihat diantara kumpulan bintang dan, tentu saja rembulanmu. Padahal aku hanya menghibur hatiku semata.

Kamu tak lebih baik, tapi masih bisakah kau rasakan apa yang ada dihatiku saat jemari kita bersentuhan dalam perhatian? Saat bibir kita diam, bertemu, dan ah.. mungkinkah masih kau rasakan? Tentu saja tidak. Karena semua rasamu telah hilang. Bagimu aku hanya secuil kisah di masa lalu, yang datang tiba-tiba, sudah, itu saja.

Ingin rasanyanya kubilang padamu, kuceritakan semua, betapa kuatnya aku sekarang. Aku yang dulu kau tinggalkan, kau injak-injak, dan kau sia-siakan. Tapi lagi-lagi kau berhasil menjatuhkan aku dalam semua permainan entah apa namanya. Kamu maruk. Kamu bajingan. Aku membenci semua sentuhanmu itu. Tapi hatiku begitu merindukannya…

Untung saja logika dengan cepat membawaku kembali pada kenyataan. Kenyataannya aku bukan siapa-siapa. Kenyataanya aku tak ada dalam cerita. Kenyataanya aku mungkin hanya mainanmu yang ‘manis’ belaka. Tapi aku bukan lagi sosok lemah yang selalu membuatmu tertawa :)

suatu saat, kau harus menjelaskan semua maksudmu, meskipun jawabannya mungkin “aku kebawa” atau “iseng” saja
meimeioh…mei 2011

untuk mei kedelapanbelas, sebelum pudar

sebenarnya kamu bisa menghentikan langkahku, jika kamu mau
akupun bisa menghentikannya, jika aku mau
tapi tiada yang terucap dari bibir kita
seakan satu sama lain ingin melihat apa yang akan terjadi
bila hujan dan matahari
memesona di saat yang sama

dan semuanya buyar
aku dengan inginku
kamu dengan hasratmu
kita dengan keegoisan kita
aku dengan rasa yang kau tak pernah tau
kamu dengan rasa yang tak pernah ada
aku
dan kamu

dan diriku, yang semakin tak mengerti kamu

dan ketika semua terulang tanpa rasa, aku pergi tanpa air mata, namun bukan berarti tanpa luka :)