Merinding. Semua rambut di tubuhku berdiri ketika melihat sosok diriku sendiri. I’m standing in front of the mirror in my room and wondering somebody tells me that yesterday was a nightmare… Tapi tak ada yang datang. Dan kemarin bukan sekedar mimpi buruk. Kemarin adalah nyata, pahitnya, perihnya, dan mengerikannya.
“Aku ga akan ganggu kamu lagi, aku tahu semua salahku…”
Adakah terbersit di otakmu untuk menenangkanku yang malam itu meringkuk ketakutan sendiri, meraba dadaku yang memar membiru, berusaha meredam nyeri di pinggul kiriku sambil menenangkan hatiku yang menciut takut? Wajarkah sebuah pesan itu (ya hanya itu saja) dilontarkan oleh seorang kamu, yang katanya peduli, dan begitu menyayangiku?
“Cowok yang udah membentak kamu bisa ninggalin tekanan psikis, meskipun kamu gak menyadari itu”
Di depan alfamart melihat kamu berbicara dengan nada keras tiba-tiba dadaku berdegup sekian kali lebih kencang.
“Cowok yang bertindak ugal-ugalan juga memberikan tekanan psikis tanpa disadari.”
Di depan gerbang rumahmu kamu membanting pintu mobil sekeras-kerasnya dan aku berusaha menahan air mataku yang hampir jatuh, menarik nafas, memegang lenganku sendiri erat-erat agar tak kentara olehmu getarannya.
“Yon, kalo kamu balik sama dia, aku gak masalah, tapi aku gak mau tahu kalo nanti akhirnya dia main tangan ke kamu dan jadi lebih parah di belakangmu. Semua keputusan balik lagi ke kamu.”
Kamu mengamuk. Melempar bungkusan gak bersalah ke langit-langit ruang itu. Kamu membanting jaket ku hingga resletingnya menimpa dadaku dengan keras, nafasku sesak, kakiku melemas, tapi seolah tak peduli kamu membanting tubuhku dengan emosi ke kasur hingga pinggulku terhantam keras. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Takut, marah, tak terima karena bahkan orang tuaku tak pernah memperlakukanku seperti ini. Aku berteriak padamu agar tidak menyentuhku dengan ketakutan maksimal. Kamu terus berusaha meraih tanganku dengan kasar.
Inikah yang harus kuterima karena tidak menampakkan senyumku padamu?
Inikah yang kamu maksud dengan “Nggak bisa liat kamu cemberut?”
Inikah yang kamu maksud dengan dewasa?
Aku tak akan menoleh lagi ke belakang, karena aku tahu semua omongan mereka benar: sesal.
I wish yesterday was a nightmare, menjelang pagi, 23juli2011