Iseng-iseng (Part 2)

Halo semua. Apa kabar? Baik kah? Atau mendung kah? Semoga nggak sedang badai yaaa… :D Atau ada yang sedang galau? Deuuuh… jangan galau-galau dulu lah, masih sore ini. Nanti aja galau nya kalo udah ditinggal pacar ke Jakarta*nunjuk diri sendiri* Daripada galau mending cerita yuk. Cerita apa aja, asal jangan cerita serem. Atau cerita aja pengalaman iseng kalian yang berbuah kegalauan! Kayak cerita saya yang satu ini… Loh, kok galau lagi?? Haha…

Sumpah ya, rasanya gimana gitu waktu saya harus ngarang-ngarang alasan buat bolos gawe. Habis gimana dong, mau nggak mau saya harus bolos karena saya nggak mau ngelewatin (dan penasaran dengan) tahap seleksi selanjutnya di BDP (BCA Deevelopment program) yang diadakan kemarin, tepatnya 22 Februari, mundur dua hari dari jadwal sebelumnya. Yup, setelah iseng-iseng apply (baca di iseng-iseng part 1), akhirnya saya masuk ke seleksi tahap ke empat (kalo nggak salah) yang namanya dinamika kelompok. Dari namanya aja sudah kebayang sih ya kalo tes ini nggak dilakukan sendiri alias bareng-bareng alias berkelompok. Tapi saya nggak nyangka bakal ketemu orang-orang yang sama lagi dengan yang terakhir saya temui menjelang interview psikolog lalu. Saya pikir saya bakal ketemu sama orang-orang baru, yang mungkin lolos seleksi di hari lain. Tapi ternyata kami ketemu lagi. Dan kali ini, kami kenalan beneran, nggak lupa tukeran nomor hape :p

Jadi kemarin itu kami berenam, empat cewek, dua cowok. Kami kumpulan cewek-cewek lumayan cepat akrab, tapi sepertinya dua cowok yang lain asik dengan pembicaraan mereka.. Ngaret sejam dari waktu yang dikabarkan, bikin saya jadi tau nama teman-teman baru saya itu, Sisi, si tinggi anak matematika udayana, Dewi yang logat Beleleng-nya kentel abis, dari Undiksha Singaraja, Ayu, si medok pecinta Suju (sumpah yang dia certain sa’ manejemen artis-artis Koreanya booook, nggak mudeng aku -_-), dari Undip Semarang, Ery, anak teknik sipil udayana dan yang terakhir, Aji, orang Jogja, lulusan UPN Veteran.

Setelah dibuat lumayan bosan menunggu, akhirnya masuklah dua orang, dua-duanya warga keturunan, yang satu bapak-bapak, saya nggak bisa mengira-ngira usianya, dan yang satu lagi Ibu-Ibu paruh baya yang kemudian kami kenal dengan nama Ibu Linda Wahyuni dari pihak rekrutmen Jakarta. Nah, kalo bapak-bapaknya saya lupa namanya, yang jelas dia itu kepala apa gitu untuk wilayah Bali dan nusa tenggara. Both of them are humble! Sama sekali nggak bikin tegang. Yang bikin tegang cuma AC di ruangan yang dipake, sumpah, dingin bangeeeet T.T *katrok*

Karena sebelumnya saya sudah banyak browsing tentang dinamika kelompok BDP ini, dan lumayan banyak informasi yang saya dapat terutama dari blog nya oom beruang, saya jadi udah punya bayangan apa yang akan saya hadapi nanti. Yang jelas kami bakal diberi satu kasus yang harus kami pecahkan bersama dan menyusun sebuah puzzle. Dan benar sudah, Ibu Linda memberi kami satu pertanyaan, tapi saya nggak nyangka ini akan jadi pertanyaannya. Pertanyaannya adalah, jika kami diberi kesempatan untuk mengelola pariwisata Bali, apa yang kami lakukan untuk mendatangkan banyak wisata asing ke Bali, tapi kami harus memperhatikan dua sisi, pertama, sisi bisnis, kedua adalah sisi lingkungan hidup. Kami diberikan waktu 10 menit untuk berdiskusi lalu menunjuk salah satu dari kami untuk menjadi juru bicaranya. Dewi mengambil alih jadi pemimpin diskusi. Ide utama datang dari nggak tau siapa yang saya ingat cuma saya mengajukan ide untuk promosi bermisi dengan tema penyelamatan lingkungan, dan Ery mengajukan ide untuk perbaikan tata ruang kota. Semua mempunyai kesempatan untuk mengajukan pendapat, tapi dari semuanya Aji lah yang paling mendominasi. Kagetnya lagi, dia mengajukan idenya sendiri saat presentasi, bukannya menuangkannya saat berdiskusi… Yah, niat banget deh jadi sorotan, tapi emang pinter sih yaaa :D Jadi pertanyaan dari Ibu Linda itu bisa kami tuntaskan dengan tiga jawaban, pertama menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memperbaiki lingkungan dan untuk lebih mencintai budaya mereka sendiri, kedua, bekerjasama dengan pemerintah untuk memperbaiki tata ruang kota Bali agar obyek wisata tidak lagi dilukai engan pembangunan hotel dan villa, kemudian ketiga, membuat suatu rangkaian promosi bermisi yang nggak sekedar promosi tapi juga ada misi penyelamatan lingkungannya. Nyam.. nyam… kok jadi berat gini topiknya??

Kelanjutan diskusinya bakal jadi karya ilmiah kalo dilanjutin, jadi saya langsung cerita ke bagian selanjutnya ya. Jadi, setelah the end of the discussion, kami diajak Bu Linda untuk bermain puzzle, iya, puzzle laknat itu. Ups. Yang nggak ada bolong-bolong nya tapi kotak semua. Kami punya waktu 15 menit untuk menusunnya menjadi persegi lima kali lima tapi sampai batas waktu yang ditentukan, kami cuma bisa menyusun 17 puzzle… Bu Linda menawarkan kami untuk kembali berusa menyusun puzzle-puzzle itu dan menanyakan berapa buah yang mungkin bisa kalian selesaikan. Setelah berunding kami sepakat bilang kalau kali ini akan menyelesaikan 20 buah puzzle. Tapiiii… ternyata kami cuma bisa menyelesaikan 19 akhirnya.

the puzzlePertanyaan yang dilontarkan Bu Linda setelah itu adalah, “Kira-kira apa masalahnya kok kalian nggak bisa nyelesaiinnya?” Most of us bilang, kami grogi karena ada batas waktu. Tapi lagi-lagi si Aji nyeletuk dengan jawabannya sendiri, “Nggak, saya rasa bukan masalah waktu, tapi kita belum tau triknya, kalo kita tau triknya biar berapapun batas waktunya pasti bisa diselesaikan” Uwoooooo, pengen deh rasanya langsung berdiri dan tepuk tangan -_- Setelahnya, Ibu Linda menjelaskan sejelas-jelasnya tentang program BDP itu sendiri.

Ternyata puzzle game  itu adalah bagian akhir dari dinamika kelompok hari itu, dan kami berenam diminta untuk menunggu diluar. Diluar, saya dan teman-teman cewek udah harap-harap cemas siapa yang akan gugur dan siapa yang akan langsung mendapat giliran untuk interview HRD. Daaaaaan, kami berenam lolos tanpa ada yang harus tereliminasi, tapi sayang saya dapat giliran interview keesokan harinya, which is hari ini, yang artinya saya kudu susah payah minta ijin bolos setengah hari lagi -.-

Yah, interview HRD berjalan lancar lah.. Untung saja yang ditanyakan masih seputar kepribadian saya sendiri. Pheeeew… Tinggal 2 tahapan lagi menuju pembicaraan perjanjian kerja, yaitu, interview user dan MCU (medical check up). Kira-kira kali ini keberuntungan berpihak sama saya lagi nggak, ya?

Let’s see….

waktu tinggi mulai jadi masalah :(

Oke, ini murni galau namanya. Saya lagi galau sodara-sodara.

Apaan sih?!

Jadi ceritanya gini, beberapa hari kemarin, hem, tepatnya sehari setelah hari raya Galungan, saya dapat telepon dari mbak-mbak bersuara merdu itu (lagi). Itu tuh, yang tempo hari mengabarkan kalo keisengan saya ngirim lamaran buat ikut program BDP-nya BCA keterima ituuu… Jadi si mbak mengabarkan kalo saya lolos untuk ikutan seleksi berikutnya yang kalo nggak salah namanya dinamika kelompok, dan diadakan tanggal 20 Februari nanti. Nggak lupa mbak nya juga ngingetin saya buat bawa alat tulis, hem si mbak tau kali ya waktu seleksi awal pencil case saya ketinggalan?? (baca di Iseng-iseng part 1)

Oke, sekarang lupain dulu soal mbak-mbak nya. Keesokan harinya setelah telepon itu, waktu saya lagi asik di tempat gawe saya yang sekarang, saya dapet telepon lagi, daaaaan panggilan buat interview lagi. Kali ini datangnya dari sebuah perusahaan outsourcing yang lagi kerja sama sama PT. BRI Persero Tbk yang mengundang saya untuk datang wawancara hari selasa yaitu besok sodara-sodara *gawat* Pheeeew… saya langsung ngeluh, dulu aja masukin banyak-banyak lamaran satupun nggak ada yang manggil, lha sekalinya manggil kok bareng begini…

Masalahnya adalah, saya trauma sama perusahaan outsource! Bukan tentang manajemen mereka atau soal kontrak kerja. Masalahnya lebih sentimentil lagi… Menyangkut harga diri.. Martabat sebagai wanita… Loh? Loh?

Masalahnya, sempat beberapa bulan lalu, waktu saya membawa lamaran ke salah satu perusahaan outsource yang katanya outsource resmi-nya BRI yang berlokasi di daerah Renon ituuu tuh. Belom sempat lamaran saya dibuka apalagi dibaca, saya langsung disuruh buka sepatu trus ukur tinggi badan. Yes, TINGGI BADAN. Tinggi badan mengalahkan segalanya… Kesian banget yah nasib orang-orang seperti saya??? *emosi*

Dan apakah kejadian yang sama bakal terulang lagi besok?

“Percuma IPK gede bahkan cumlaude dan sering ikut kegiatan ini itu pas kuliah kalo tinggi badan nggak nyampe 155 cm” ~ ion, 22 tahun

Iseng-iseng Part 1

Oke, hari ini saya mau lanjut cerita. Kemarin gara-gara kebanyakan yang mau diceritain, jadi malah nggak jadi cerita. haaaha…

Jadi ceritanya, kemarin itu saya bolos gawe di tempat gawe saya sekarang (tempat kursus matematika kiblat Jepang itu tuh) dengan alasan sakit. Padahal sebenarnya, jam 8 pagi saya udah duduk manis aja gitu di ruang meeting agung nya KCU BCA di jalan Hasanudin. Yak, benar sekali, saya bolos gawe buat interview gawean lainnya :D

Saya hari itu ikutan psikotes untuk BDP (BCA Development Program) yang lamarannya iseng-iseng saya kirim lewat internet setelah dapat email lowongan dari jobstreet (sumpah, yang ini iseng beneran!). Eh, tak disangka tak dinyana, datanglah sms pemberitahuan buat ngikutin psikotes sekitar tiga hari lalu lah. Awalnya saya kira itu cuma sms tipu-tipu basi doang. Abisan setelah saya tanya temen saya yang baru aja keterima jadi teller di BCA, semua pemberitahuan interview dikasih tahunya minimal lewat telepon. Tapi, keesokkan harinya ternyata mbak-mbak bersuara merdu menelepon saya dan minta konfirmasi apa besok bisa ikutan tes atau enggak. Oh.. ternyata beneran toh… Yaudah deh, hajar aja, sekali-sekali ini bolos  ngumon, sekalian refreshing dari rutinitas membosankan, begitu pikir saya waktu itu.

Nah, jadilah saya hari itu pagi-pagi berangkat ditemenin ujan (T.T). Karena rumah saya jauh (sekitar 40 menit dari TKP) otomatis saya harus bangun lebih pagi dari biasanya. Kemarinnya saya udah nyiapin pensil HB sesuai sama yang dikasih tahu sama mbak-mbak bersuara merdu itu di telepon. Sampai di TKP, jreeeeeng kagetlah saya, semuanya pada neciiiis boook. Sekitar 10 lebih cewek-cewek dengan rok-kemeja-blazer-high heels bertebaran di depan saya. Buset dah, saya doang nih yang serampangan, pikir saya waktu itu. Ya jelas lah, diantara semua pegawai-bank-wanna-be itu, cuma saya yang dateng cuek dengan jeans dan kemeja a la anak kuliahan yang slengek’an :) ) Eh, tapi setelah lirik kiri kanan, akhirnya saya dapet temen senasib juga. Yah meskipun jumlahnya cuma beberapa. Hehee

Setelah menunggu sekitar 10 menit, kami yang jumlahnya sekitar 20-25 orang digiring pak satpam menuju sebuah gedung paling belakang dan langsung masuk ke ruang meeting agung yang ada di lantai 3. Ohya, sebelum masuk, mas-mas cakep yang hari itu jadi mentor kami udah ngasi pengumuman kalo test nya pake sistem gugur (eliminasi), jadi kalo nggak lulus test tahap pertma-kedua (yang digabung) kami harus pulang. Beuh.. kalo yang ini sih saya udah tau. Malem sebelumnya saya udah sempat cari info tentang programnya BCA yang satu ini. Dan dari info yang saya dapet, program ini emang sulit buat ditembus dan proses seleksinya berlapis-lapis (kok kayak wafer yaa? :D ). Jadi sebenarnya saya udah siap mental aja gitu kalo di gelombang pertama saya udah harus say goodbye sama temen-temen yang lain. Apalagi setelah lihat peserta lain yang kayaknya udah mantep banget gitu.:|

Keyakinan saya bakal tereliminasi di proses awal tambah gede waktu saya nyadar ternyata kotak pensil saya ketinggalan. Yup, saya ternyata nggak bawa alat tulis apapun, wkwkwk. Alhasil lima menit sebelum tesnya dimulai, saya sibuk minjem bolpen sama pensil ke mbak-mbak sekitar saya. Salah seorang teman kenalan saya, Amrita, anak ilmu komputer Udayana angkatan ’06 sampe komentar begini, “Hadeh,, itu sih terlalu santai kamunya..” Santai apaan, belom tau dia semalem saya beli pensil HB hujan-hujanan. Tapi emang dasarnya slebor, mau digimanain dong? *ngeles*

Singkat cerita, akhirnya saya dapet juga bolpen dan pensil dan siap tempur dengan nomor keberuntungan 004. Tes tahap awal ya masih kayak psikotes kebanyakan. Kalimat-kalimat, persamaan dan lawan kata, melanjutkan bilangan, hitungan, mengingat kata, dan logika matematika lainnya. Ini nih, dibagian itung-itungan gini nih, males banget deh.. Lembar jawaban yang keisi kayaknya nggak lebih dari 10 biji :) ) Trus lanjut gambar-gambar, asik kalo yang ini saya suka :D Nah, tahap pertama terlewati dengan santai dan masih dengan pikiran habis ini pulang. Tahap test kedua (disambung dengan yg pertama jadi belom ada eliminasi) adalah si lembar pauli ituuu. Buat kalian  yang udah pernah ikutan psikotes pasti tau deh. Jadi kita dikasih selembar kertas ukuran A3 (kayaknya) yang penuh dengan deretan angka dari atas ke bawah. Instruksinya adalah menjumlahkan angka di atas dengan yg dibawahnya begitu seterusnya dan menuliskan hasilnya di antara dua angka tersebut. (kebayang? nggak kebayang? ya pokoknya gitu deh :p) Kayaknya cuma anak-anak psikologi deh yang ngerti caranya menilai tes pauli ini…

Setelah otak lumayan kerja rodi gara-gara si lembar pauli, kami diijinkan untuk istirahat dan menikmati santap siang bersama. Pheeeew, saya sampe sakit leher :( Pikiran saya habis makan-pulang aja deh pokoknya. Sementara mbak-mbak dengan rok-kemeja ketat-blazer-high heels itu bolak-balik ke kamar mandi (mungkin touch up bedaknya belepotan gara-gara tes pauli, wkwkwk). 30 menit.. 35 menit.. 40 menit.. 45 menit.. Dan Mas Julius (kalo nggak salah) keluar dari ruang meeting agung sambil bawa kertas HVS yang dia tempelin di pintu ruangannya sambil bilang, “Yang nomornya tidak tercantum disini boleh langsung pulang ya..” Saya mendekat dan.. 001, 004, 013, 019, 021, 022.

Saya kembali masuk ke ruangan sambil kebayang-bayang muka mbak-mbak yang saya pinjemin pensil dan bolpen yang kedua-duanya nggak lolos seleksi tahap pertama *guilty* Sambil kebayang-bayang juga sama mbak-mbak rok-blazer-high heels yang pada pulang semua *berkaca-kaca* Dan tes berlanjut dengan sekitar 500 lebih pertanyaan tentang kepribadian. Hari itu ditutup dengan wawancara singkat perorangan dan sebuah pertanyaan: loloskah saya ke tahap selanjutnya?