road to the last episode…

Hari ini, selasa 12 juli 2011, setelah sekian lama nggak ke bukit, akhirnya aku berangkat juga menuju kampus sendirian. Janjian ketemu di deket pos satpam rektorat jam setengah sembilan, sampe disana baru ada seorang temanku yang dengan antengnya menunggu ditemani pacar barunya (BB maksudnye :p)-_-. Akhirnya, setelah sekian lama satu persatu teman-temanku (yang kemarin janjian mau datang sekarang) muncul, kami semua, yang punya tujuan sama, mendaftar tiket kereta menuju kehidupan yang sebenarnya (halah, apa coba).

 

Rasanya baru kemarin kami semua berkumpul disini, dengan muka-muka polos nggak tau apa. Bingung habis ini kudu kemana, ngambil apa, trus kudu ngapain lagi. Ngeri ngeliat senior-senior pake almamater dg wajah galak seliweran (mupeng kalo ada yg bening dan cakep :p). Eh.. nggak taunya momen itu udah berlalu hampir empat tahun. Hari ini kami ngumpul lagi di tempat ini untuk ‘episod terakhir’ kami agustus nanti :)

 

Enggak taunya kita udah nggak ada kuliah lagi…

Enggak taunya kita udah gak ikutan kepanitiaan lagi…

Enggak taunya dulu deket sama ini, sekarang malah jauh dan sebaliknya…

Enggak taunya udah banyak cerita aja..

dan kenangan,

dan harapan,

dan sebentar lagi kami malah udah sampe di episod terakhir,

tapi adalah awal dari kehidupan kita yg sebenarnya.

 

Enggak taunya kita uda mau wisuda yah, kawan-kawan? :D

 

-pulang dari daftar wisuda, kok sedih yaa mau pisah sama kalian :(

jika kami bersama…

Minggu 14 mei kemarin, setelah merencanakan seminggu sebelumnya, akhirnya dua sohibku, ima dan tsuki hijrah ke tempat tinggalku dan julli yg notabenenya jauh dari peradaban makanya jadi jarang dikunjungi (apasih?). Rumah pertama yg mereka kunjungi adalah rumah julli. Aku yang sedang santai dirumah langsung saja meluncur kesana juga. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar (dan milih-milih baju agak lama) kami meluncur ke dagang lumpia enak, kata julli, yang ternyata benar-benar enak, dan dilanjutkan makan bakso bareng di dagangnya (gak tau apa nama warungnya :p).

Setelah kenyang (kekenyangan tepatnya), kami meluncur ke rumahku. Disana kami akhirnya menemukan sebuah short hitam pendek untuk julli yang kebingungan (yaa meskipun agak sempit, bisa masuk lah :D ). Setelah cucimuka-sisiran-gantibaju kamipun meluncur menuju pantai Tanah Lot, berpasangan dua-dua (baca: boncengan motor, aku & julli vs ima & tsuki). Perjalanan menuju Tanah Lot sungguh penuh perjuangan, habisnya banyak bus pariwisata, hari minggu siiih…

Sampai di pantai eksotis ituuu, setelah nekat niat masuk tanpa tiket tapi akhirnya hampir dipermalukan sama oom-oom di pengecekkan tiket, kamipun langsung menuju deretan pedagang aksesoris. Maklum, cewek-cewek kalo uda ngumpul dan dateng ke tempat-tempat seperti ini pasti deh… laper mata. Setelah membeli beberapa barang, kamipun langsung menuju pantai dan hunting tempat buat fotofoto… Berbekal kamera pocket julli yang mulai agak aneh, ini dia beberapa fotonya…

Pouuuaaah, puas fotofoto dan berhubung hari sudah mulai gelap, kami bergegas pulang ke rumah masing-masing. Eiiit, tapi sebelum pulang, aku yang dari beberapa waktu belakangan emang lagi pengen banget pasang tatto, akhirnya meminta mereka menemaniku mendekati tukang tatto temporary terdekat. Haaa, si oom tukang tatto yang pasang harga mahal banget akhirnya banting harga gara-gara kami nawarnya keroyokan. Jadi deh, satu kupu-kupu keren di kaki kiriku :D Sayangnya dg bodoh, begitu sampai di rumah, saat mandi, aku lupa dan menggosok kakiku dengan shower-puff (bego kan? kan? kan?) T____T

what a great day w/ u girls… :) waiting for next destination :D

dan setelah aku membaca tulisan-tulisan mereka itu…

Egois…
Dua bulan lebih, dan kamu masih saja (hanya) berniat untuk bangkit tanpa benar-benar berjuang untuk pulih. Kamu terlalu manja dengan luka, tanpa menoleh betapa dia ada untuk mengatakan padamu bahwa kamu kuat. Kamu terlalu lemah, jika masih saja membelenggu hatimu dengan perasaan tersia-siakan. Kamu terlalu pengecut, tanpa bisa mengerti apa yang sesungguhnya membuatmu begitu takut. Kekosongan? Kehampaan? Atau rindu yang menyiksa?

Hey, sadarlah! Betapa dirimu sudah muak dengan segala sisi lemah itu. Betapa matamu memohon agar airnya tidak kau sabotase hanya untuk dia yang bahkan di pikirannya tak ada kamu secuil saja. Berhenti memperburuk keadaanmu sendiri dengan masih saja mengingat-ingat hal yang telah pergi. “No matter happen time will pass and things will never come back!” Lihat sekelilingmu. Semua berjalan. Haya kamu yang diam di tempat, tertawa, tersenyum, melangkah tapi dengan penuh kepalsuan. Jangan pikir mereka semua tak melihat itu. Mereka semua ada dan menunggu jiwamu kembali: sahabat-sahabatmu. Mereka yang tau masalahmu, berusaha membantumu berdiri dan menyeimbangkan. Bahkan mereka yang tak taupun mengulurkan tangan menawarkan persahabatan, biar kamu menikmati hidupmu, semua rasa itu. Mereka tak pernah lelah meneriakkan kata semangat di kupingmu, dan yang terpenting lihat, lihat jauh di lubuk hatimu. Diapun berbisik kata yang sama walaupun dengan suara volume terendah. Diapun lelah…

Bangunlah. Coba untuk mendamaikan perasaan dengan logikamu. Coba untuk berbaikan dengan dirimu sendiri. Coba untuk menikmati setiap rasa tanpa harus mengeluhkannya. Berhentilah mencari tempat untuk bersembunyi. Lihat semua cerita yang kau dapat sampai siang ini? Lihat semua tulisan yang kau baca sampai beberapa menit tadi? Mereka merasakannya juga, dan mereka kini jadi pribadi yang jauh lebih baik. Tau kenapa? Karena mereka berani memaafkan dirinya sendiri dan memulai dari awal lagi…

“Maybe you’re reason why all the doors are closed, So you could open one that leads you to the perfect road”

untuk para sahabat dan… diriku sendiri, 07052011

iri, sirik, yah semacam itulah…

IRI. Tema beberapa bulan terakhir dalam hidupku tu ya ituw. Aku iri (+kagum, +merasa kecil, +merasa tertantang) sama semua temen-temenku yang di masa mudanya ini bisa menyalurkan kreatifitas mereka, ya lewat musik, lewat tulisan, pokoknya lewat sebuah karya deh.

Gimana enggak keder, kayaknya cuma aku doang yang ga berkembang diantara semua temen-temen. Cuma aku yang ga punya kegiatan waktu suatu sabtu malem aku yang lagi iseng malah iseng-iseng smsin temen-temenku itu sebuah pertanyaan: ‘Hui, pada lagi ngapain kawan?’

Si anu: latian ni di Farabi, bentar lagi mau manggung,
Si itu: promosi buk, clothinganku uda mule jalan, doain yaa.
Si ono: mau dotA, tapi biar web-nya kelar dulu.
Si apa: lagi latian ni di ukm,,

Dan banyak lagi jawaban serupa (baca: melakukan kegiatan2 lain, selain pacaran tentunya haha). Oke. Mereka emang orang-orang kreatif sih, pikirku. Tapi lama-lama setelah kupikir lebih dalam, kenapa mereka bisa dan aku engga ya? Aku iriiiii…

Kali ini iri-nya makin dalem, gara-gara inget umur, dan inget kata seorang alm.sahabat yang bilang ‘masa muda adalah masa berkarya sebanyak-banyaknya, karena apa yang telah kita buat dimasa muda akan jadi sebuah kebanggaan saat kita tua nanti’. Aku juga mau, mau banged malah. Berkarya. Tapi apa? Sampe di umur seginipun aku masih belum tau apa sebenarnya yang jadi kegemaranku.

Dulu aku suka banged ama yang namanya nari. Mulai belajar nari Bali sekitar kelas 3 SD, terus nari ampe SMP, dan kenal banyak jenis tari selain tari Bali. Tapi setelah penggemukan badan (muahahahaha), aku jadi jarang nari lagi. Beberapa kali ada yang minta dibuatin komposisi gerakan tari kreasi, dan itu bikin semangat lagi. Menciptakan, lalu mengajarkan, melihat tariannya dipentaskan, dan sudah, berakhir sampai disitu saja. Kalo ga ada tawaran, kesukaanku akan menari cuma terpendam gitu aja, kalah sama rasa malas dalam diriku. :P

Foto editing. Kesukaanku yang ini berawal dari kebiasaanku nimbrung bareng oomku (yang cuma 4 tahun lebih tua dari aku) dan temen-temennya (Prima ama Bayu dulu, tapi skarang ama Haris, hoho). Dulu waktu masih SD, dan mereka SMP, aku yang masi imut [eh?] suka banget ngintipin mereka yang waktu itu udah freak banged ama IT. Seharian kadang aku betah ngeliat mereka yang pada diem d depan layar komputer tanpa tau apa yang sedang mereka kerjakan. Kesukaan mereka ini berlanjut sampai akhirnya mereka jadi web designer dan tetap bersahabat sampe saat ini. Oom ku juga yang mengenalkanku pada sebuah program buat mengedit foto yang buat aku keranjingan. Meskipun ga semahir mereka, akhirnya aku bisalah menggunakan program ini. Kalo cuma sekedar bikin design spanduk ato baliho buat acara kampus, aku jabanin aja. Hehehe…

Aku juga suka nulis. Tapi setelah baca banyak tulisan dan mengenal banyak teman yang gemar menulis, aku vonis diriku ga mahir menulis. Teman-teman yang menulis pasti karena mereka hobi menulis. Aku menulis kalo sedang ingin menulis saja. Sempat dulu, wakrtu sedang semangat-semangatnya, salah satu cerpenku jadi nominasi lomba dan akhirnya dibukukan oleh Balai Pustaka. Waktu itu aku berniat akan terus menulis dan menulis. Hah… ternyata semangatnya menguap juga. Belakangan ketika aku mulai menulis lagi, sangat enggan rasanya untuk melanjutkan, dan akhirnya tulisannya to be continued terus, ga ada lanjutannya. Heheheh…

Lalu apa dong? Apa yang bisa aku hasilkan? Aku juga pengen bisa kayak temen-temenku yang dengan kreatifitasnya bisa membuat sesuatu yang membanggakan, setidaknya bagi diri mereka sendiri. Pengen bisa kayak Ferra dengan hobi nyanyinya, pingin bisa kaya oomAndi dengan divDesign-nya, pengen bisa kayak kak Yudha dengan IndieGo!-nya, pengen….

27.05.09