Iseng-iseng Part 1

Oke, hari ini saya mau lanjut cerita. Kemarin gara-gara kebanyakan yang mau diceritain, jadi malah nggak jadi cerita. haaaha…

Jadi ceritanya, kemarin itu saya bolos gawe di tempat gawe saya sekarang (tempat kursus matematika kiblat Jepang itu tuh) dengan alasan sakit. Padahal sebenarnya, jam 8 pagi saya udah duduk manis aja gitu di ruang meeting agung nya KCU BCA di jalan Hasanudin. Yak, benar sekali, saya bolos gawe buat interview gawean lainnya :D

Saya hari itu ikutan psikotes untuk BDP (BCA Development Program) yang lamarannya iseng-iseng saya kirim lewat internet setelah dapat email lowongan dari jobstreet (sumpah, yang ini iseng beneran!). Eh, tak disangka tak dinyana, datanglah sms pemberitahuan buat ngikutin psikotes sekitar tiga hari lalu lah. Awalnya saya kira itu cuma sms tipu-tipu basi doang. Abisan setelah saya tanya temen saya yang baru aja keterima jadi teller di BCA, semua pemberitahuan interview dikasih tahunya minimal lewat telepon. Tapi, keesokkan harinya ternyata mbak-mbak bersuara merdu menelepon saya dan minta konfirmasi apa besok bisa ikutan tes atau enggak. Oh.. ternyata beneran toh… Yaudah deh, hajar aja, sekali-sekali ini bolos  ngumon, sekalian refreshing dari rutinitas membosankan, begitu pikir saya waktu itu.

Nah, jadilah saya hari itu pagi-pagi berangkat ditemenin ujan (T.T). Karena rumah saya jauh (sekitar 40 menit dari TKP) otomatis saya harus bangun lebih pagi dari biasanya. Kemarinnya saya udah nyiapin pensil HB sesuai sama yang dikasih tahu sama mbak-mbak bersuara merdu itu di telepon. Sampai di TKP, jreeeeeng kagetlah saya, semuanya pada neciiiis boook. Sekitar 10 lebih cewek-cewek dengan rok-kemeja-blazer-high heels bertebaran di depan saya. Buset dah, saya doang nih yang serampangan, pikir saya waktu itu. Ya jelas lah, diantara semua pegawai-bank-wanna-be itu, cuma saya yang dateng cuek dengan jeans dan kemeja a la anak kuliahan yang slengek’an :) ) Eh, tapi setelah lirik kiri kanan, akhirnya saya dapet temen senasib juga. Yah meskipun jumlahnya cuma beberapa. Hehee

Setelah menunggu sekitar 10 menit, kami yang jumlahnya sekitar 20-25 orang digiring pak satpam menuju sebuah gedung paling belakang dan langsung masuk ke ruang meeting agung yang ada di lantai 3. Ohya, sebelum masuk, mas-mas cakep yang hari itu jadi mentor kami udah ngasi pengumuman kalo test nya pake sistem gugur (eliminasi), jadi kalo nggak lulus test tahap pertma-kedua (yang digabung) kami harus pulang. Beuh.. kalo yang ini sih saya udah tau. Malem sebelumnya saya udah sempat cari info tentang programnya BCA yang satu ini. Dan dari info yang saya dapet, program ini emang sulit buat ditembus dan proses seleksinya berlapis-lapis (kok kayak wafer yaa? :D ). Jadi sebenarnya saya udah siap mental aja gitu kalo di gelombang pertama saya udah harus say goodbye sama temen-temen yang lain. Apalagi setelah lihat peserta lain yang kayaknya udah mantep banget gitu.:|

Keyakinan saya bakal tereliminasi di proses awal tambah gede waktu saya nyadar ternyata kotak pensil saya ketinggalan. Yup, saya ternyata nggak bawa alat tulis apapun, wkwkwk. Alhasil lima menit sebelum tesnya dimulai, saya sibuk minjem bolpen sama pensil ke mbak-mbak sekitar saya. Salah seorang teman kenalan saya, Amrita, anak ilmu komputer Udayana angkatan ’06 sampe komentar begini, “Hadeh,, itu sih terlalu santai kamunya..” Santai apaan, belom tau dia semalem saya beli pensil HB hujan-hujanan. Tapi emang dasarnya slebor, mau digimanain dong? *ngeles*

Singkat cerita, akhirnya saya dapet juga bolpen dan pensil dan siap tempur dengan nomor keberuntungan 004. Tes tahap awal ya masih kayak psikotes kebanyakan. Kalimat-kalimat, persamaan dan lawan kata, melanjutkan bilangan, hitungan, mengingat kata, dan logika matematika lainnya. Ini nih, dibagian itung-itungan gini nih, males banget deh.. Lembar jawaban yang keisi kayaknya nggak lebih dari 10 biji :) ) Trus lanjut gambar-gambar, asik kalo yang ini saya suka :D Nah, tahap pertama terlewati dengan santai dan masih dengan pikiran habis ini pulang. Tahap test kedua (disambung dengan yg pertama jadi belom ada eliminasi) adalah si lembar pauli ituuu. Buat kalian  yang udah pernah ikutan psikotes pasti tau deh. Jadi kita dikasih selembar kertas ukuran A3 (kayaknya) yang penuh dengan deretan angka dari atas ke bawah. Instruksinya adalah menjumlahkan angka di atas dengan yg dibawahnya begitu seterusnya dan menuliskan hasilnya di antara dua angka tersebut. (kebayang? nggak kebayang? ya pokoknya gitu deh :p) Kayaknya cuma anak-anak psikologi deh yang ngerti caranya menilai tes pauli ini…

Setelah otak lumayan kerja rodi gara-gara si lembar pauli, kami diijinkan untuk istirahat dan menikmati santap siang bersama. Pheeeew, saya sampe sakit leher :( Pikiran saya habis makan-pulang aja deh pokoknya. Sementara mbak-mbak dengan rok-kemeja ketat-blazer-high heels itu bolak-balik ke kamar mandi (mungkin touch up bedaknya belepotan gara-gara tes pauli, wkwkwk). 30 menit.. 35 menit.. 40 menit.. 45 menit.. Dan Mas Julius (kalo nggak salah) keluar dari ruang meeting agung sambil bawa kertas HVS yang dia tempelin di pintu ruangannya sambil bilang, “Yang nomornya tidak tercantum disini boleh langsung pulang ya..” Saya mendekat dan.. 001, 004, 013, 019, 021, 022.

Saya kembali masuk ke ruangan sambil kebayang-bayang muka mbak-mbak yang saya pinjemin pensil dan bolpen yang kedua-duanya nggak lolos seleksi tahap pertama *guilty* Sambil kebayang-bayang juga sama mbak-mbak rok-blazer-high heels yang pada pulang semua *berkaca-kaca* Dan tes berlanjut dengan sekitar 500 lebih pertanyaan tentang kepribadian. Hari itu ditutup dengan wawancara singkat perorangan dan sebuah pertanyaan: loloskah saya ke tahap selanjutnya?

Yesterday Was a Nightmare

Merinding. Semua rambut di tubuhku berdiri ketika melihat sosok diriku sendiri. I’m standing in front of the mirror in my room and wondering somebody tells me that yesterday was a nightmare… Tapi tak ada yang datang. Dan kemarin bukan sekedar mimpi buruk. Kemarin adalah nyata, pahitnya, perihnya, dan mengerikannya.

“Aku ga akan ganggu kamu lagi, aku tahu semua salahku…”

Adakah terbersit di otakmu untuk menenangkanku yang malam itu meringkuk ketakutan sendiri, meraba dadaku yang memar membiru, berusaha meredam nyeri di pinggul kiriku sambil menenangkan hatiku yang menciut takut? Wajarkah sebuah pesan itu (ya hanya itu saja) dilontarkan oleh seorang kamu, yang katanya peduli, dan begitu menyayangiku?

“Cowok yang udah membentak kamu bisa ninggalin tekanan psikis, meskipun kamu gak menyadari itu”

Di depan alfamart melihat kamu berbicara dengan nada keras tiba-tiba dadaku berdegup sekian kali lebih kencang.

“Cowok yang bertindak ugal-ugalan juga memberikan tekanan psikis tanpa disadari.”

Di depan gerbang rumahmu kamu membanting pintu mobil sekeras-kerasnya dan aku berusaha menahan air mataku yang hampir jatuh, menarik nafas, memegang lenganku sendiri erat-erat agar tak kentara olehmu getarannya.

“Yon, kalo kamu balik sama dia, aku gak masalah, tapi aku gak mau tahu kalo nanti akhirnya dia main tangan ke kamu dan jadi lebih parah di belakangmu. Semua keputusan balik lagi ke kamu.”

Kamu mengamuk. Melempar bungkusan gak bersalah ke langit-langit ruang itu. Kamu membanting jaket ku hingga resletingnya menimpa dadaku dengan keras, nafasku sesak, kakiku melemas, tapi seolah tak peduli kamu membanting tubuhku dengan emosi ke kasur hingga pinggulku terhantam keras. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Takut, marah, tak terima karena bahkan orang tuaku tak pernah memperlakukanku seperti ini. Aku berteriak padamu agar tidak menyentuhku dengan ketakutan maksimal. Kamu terus berusaha meraih tanganku dengan kasar.

Inikah yang harus kuterima karena tidak menampakkan senyumku padamu?

Inikah yang kamu maksud dengan “Nggak bisa liat kamu cemberut?”

Inikah yang kamu maksud dengan dewasa?

 

Aku tak akan menoleh lagi ke belakang, karena aku tahu semua omongan mereka benar: sesal.

I wish yesterday was a nightmare, menjelang pagi, 23juli2011

dan setelah aku membaca tulisan-tulisan mereka itu…

Egois…
Dua bulan lebih, dan kamu masih saja (hanya) berniat untuk bangkit tanpa benar-benar berjuang untuk pulih. Kamu terlalu manja dengan luka, tanpa menoleh betapa dia ada untuk mengatakan padamu bahwa kamu kuat. Kamu terlalu lemah, jika masih saja membelenggu hatimu dengan perasaan tersia-siakan. Kamu terlalu pengecut, tanpa bisa mengerti apa yang sesungguhnya membuatmu begitu takut. Kekosongan? Kehampaan? Atau rindu yang menyiksa?

Hey, sadarlah! Betapa dirimu sudah muak dengan segala sisi lemah itu. Betapa matamu memohon agar airnya tidak kau sabotase hanya untuk dia yang bahkan di pikirannya tak ada kamu secuil saja. Berhenti memperburuk keadaanmu sendiri dengan masih saja mengingat-ingat hal yang telah pergi. “No matter happen time will pass and things will never come back!” Lihat sekelilingmu. Semua berjalan. Haya kamu yang diam di tempat, tertawa, tersenyum, melangkah tapi dengan penuh kepalsuan. Jangan pikir mereka semua tak melihat itu. Mereka semua ada dan menunggu jiwamu kembali: sahabat-sahabatmu. Mereka yang tau masalahmu, berusaha membantumu berdiri dan menyeimbangkan. Bahkan mereka yang tak taupun mengulurkan tangan menawarkan persahabatan, biar kamu menikmati hidupmu, semua rasa itu. Mereka tak pernah lelah meneriakkan kata semangat di kupingmu, dan yang terpenting lihat, lihat jauh di lubuk hatimu. Diapun berbisik kata yang sama walaupun dengan suara volume terendah. Diapun lelah…

Bangunlah. Coba untuk mendamaikan perasaan dengan logikamu. Coba untuk berbaikan dengan dirimu sendiri. Coba untuk menikmati setiap rasa tanpa harus mengeluhkannya. Berhentilah mencari tempat untuk bersembunyi. Lihat semua cerita yang kau dapat sampai siang ini? Lihat semua tulisan yang kau baca sampai beberapa menit tadi? Mereka merasakannya juga, dan mereka kini jadi pribadi yang jauh lebih baik. Tau kenapa? Karena mereka berani memaafkan dirinya sendiri dan memulai dari awal lagi…

“Maybe you’re reason why all the doors are closed, So you could open one that leads you to the perfect road”

untuk para sahabat dan… diriku sendiri, 07052011

A Moment to Remember…

Hari ini aku benar-benar bertemu dengan banyak orang, dalam denotasi, aku memang bertemu banyak orang, sedangkan dalam konotasi, aku menemui banyak sosk yang pernah kukenal, aku tahu mereka tapi mereka gak tahu aku dan sebaliknya (apaan sih?:p). Berawal dari siang kemarin waktu seorang teman adikku yang tiba-tiba datang padaku sambil bilang, “Kak, boleh minta tolong gak? Besok kita ikutan festival band, aku gak tau harus pake baju apa, harus gimana tampilnya. Bantuin yah?” Hahaa.. aku yang memang suka ‘mendandani orang’ langsung setuju tanpa babibu. Pikirku waktu itu, toh aku juga gak ada kerjaan (ada sih, revisi skripsi), lumayan buat refreshing sebentar dari sekian banyak rentetan kenyataan pahit yang harus kuhadapi belakangan ini.

Jadilah pagi ini aku bangun dengan agak sedikit malas, menyiapkan diriku sedemikian rupa dengan jeans rombengku, t-shirt hitam dan tas selempang penuh dengan perlengkapan make up. Dengan tampang acakadul aku menuju venue dimana anak-anak nan manis itu sudah menunggu kedatanganku yang waktu itu ditemani adik kandungku.

“Kak, dandanin a la rock star yaa,” kata Ayu, si vokalis yang.. hem, matanya rada sayu. Berbekal pengetahuan tentang dandanan yang kudapat akibat sering baca majalah fashion akupun mendandaninya. Bak stylist aku memilihkan kostum untuk mereka dan sesekali memberi semangat agar mereka, yang notabene nya peserta termuda tetap semangat meskipun dapat giliran tampil paling pertama.  Memberikan mereka option tampilan yang berdasarkan konsep supaya selain skill yang oke, penampilan mereka juga oke di atas panggung nanti. Dan, salah satu dari mereka berlima nyeletuk, “Kak, kakak jadi official crew kami aja yaa, temenin kami ntar di belakang.” “Hah? Cuma nemenin doang kan? Okelah” jawabku.

Ketika acara hampir dimulai, aku mulai melihat beberapa sosok yang rasanya pernah kukenal. Benar saja, saat aku berjalan keluar gedung untuk mencari sesuatu di motorku, seseorang menyapaku, “Weh!”

Aku berbalik, tiba-tiba berharap tidak bertemu orang itu hari ini. Tidak saat aku masih benar-benar penat akan urusan perasaan, saat aku ingin melupakan semua keseluruhan cerita tentang rasa.

“Hei,” jawabku akhirnya, “Kok disini? Ikutan ni?”

Dia berjalan mendekat ke arahku. “Enggak. Ntar malem aku main,” katanya sambil memandangku lekat-lekat.

AKu melihat beberapa orang lain yang juga kukenal berseliweran di sekitar kami. Aku gak fokus dengan orang di depanku ini, sibuk menyapa mereka (atau menyibukkan diri?) dan bingung mau menjawab apalagi. “Oh.. gitu..” hanya itu yang meluncur dari mulutku.

“Iya, kemana ja? Kok beda gini sekarang?” tanyanya.

“Ah? Gak kemana,” kataku sambil berdoa seseorang menyelamatkanku dari percakapan ini, “Apanya beda emang? Sama aja…”

“Beda…”

“Tambah berantakan ya? Hahahaha” kataku garing sambil menghindari tatapan matanya yang seolah-olah mencari-cai sesuatu di bola mataku.

“Raka!” tiba-tiba seseorang memanggilnya dan aku menggunakan kesempatan itu untuk segera pergi.

“Eh, aku duluan ya, ditunggu adikku di dalem,” kataku.

“Ya, ntar malem dating ya,” katanya lagi.

“Aduh, gak bisa kayaknya. Liat ntar aja ya,” kataku sambil berlalu.

Aku berjalan cepat menuju gedung, melihat beberapa teman SMA ku memandang ke arahku tapi aku tetap berjalan tanpa meperdulikan mereka. Pikiranku mulai tak karuan menyalahkan hatiku yang gak pernah bisa logis: ingatanku memutar kenangan saat aku menyia-nyiakannya demi laki-laki yang (saat itu) berjanji akan membahagiakan dan melindungiku.

Ah… ternyata niat refreshing dari masalah hati itu belum kesampean juga hari ini. Aku kembali ke rumah dengan berat hati meskipun di ujung hari aku mendapat sedikit hiburan dengan berita keberhasilan anak-anak SMP itu menyabet juara 3 dari 13 band lainnya dan best player untuk sang vokalis. Congratulation

Seharian bareng anak-anak stupa, 30042011

bikin-bikinan

Jumat kemarin hampir jadi hari yang super duper ngebetein buatku. Gimana enggak, tenyata si dosen yang kutunggu-tunggu (haes?) ga jadi ngajar. Sebenarnya bukan itu sih masalah utamanya. Masalahnya itu, karena si dosen ga jadi ngajar, aku kudu nunggu sendirian ampe jam dua, buat ketemu ama ninaa dan lina, seperti yang udah kami rencanain. Ga bisa maju juga jam ketemunya, abisan si tante Lina masih ada kuliah. (maklum kita bertiga beda kelas dan jurusan dan fakultas malah!).

Untungnya Nina yang hari itu UTS bisa pulang cepet dan menghampiri daku (halah) ke kampus. Sebenarnya niat awal kami ketemuan itu buat ngomongin usaha yang lagi kita rintis yang sampe sekarang menurutku masih luntang-lantung. Gimana nggak luntang-lantung, setelah rombak konsep habis-habisan pun kita masih belum ada progress yang membanggakan (haha). Tapi santai aja sih sebenernya, aku juga gak mau ini terjadi secara instant, lebih baik memulai sedikit demi sedikit, yang penting kreatifitas bisa disalurkan *dan mendatangkan uang* (matre mode: ON)

Entah kita bertiga yang gak fokus ato gimana, pertemuan kemarin yang harusnya bahas first project kita malah berujung buntu. Plan awal diundur lagi dan bikin aku lumayan bête, hehehehe… Tapi oh tapiii, tenyata dibalik semua itu I get something fun!

Akhirnya kami bertiga mutusin buat bubaran dengan job desk masing-masing. Aku yang waktu itu masih kesel, mutusin buat gak langsung pulang tapi nangkring di rumah Nina.hasil karya si ninaa Sesampainya di rumah Ninaa, taraaa that’s the place I got the funny stuff, dan langsung berpikir kalo semua ini juga bisa jadi produk pertama usaha kami! Some unique handmade necklaces tergantung rame di tempat aksesoris kamarnya.Dan begitu juga bahan bakunya. Langsung aja tanpa babibu aku copot jeansku (loh?) dan pake short punya nina, dan mengambil semua pernak-pernik di atas meja, dan mencoba bikin satu saja. (wkwkwkwkwk, ampe nyolong monte nya si tante :P ) Hasilnya? Yaaah ga kalah lucu kok dari buatannya Ninaa (Cuma kalah rapinya kebangetan). So, what do u think about this? Laku dijualkah??? Hohoho… Ih, sayang ah dijual, dipake dulu buat pamer. Hasil karya sendiri memang lebih baik^^